Saturday, 30 March 2013

Pemimpin, Siapa??

Pemimpin, sosok yang paling diidamkan oleh semua orang. Banyak orang yang ingin sekali menjadi pemimpin yang dapat membawa perubahan bagi semua hal yang dipimpinnya, namun apakah banyak pula yang memimpin malah membuat semua yang dipimpinnya semakin terpuruk???? Kepemimpinan adalah sifat manusia, sifat yang selalu ada dalam diri manusia bahkan semua manusia yang ada didunia ini. Sifat yang dapat membawa perubahan bagi semua kalangan dan khususnya kepada dirinya sendiri, namun ada pula yang terjebak dalam sifat ini. Manusia memang makhluk tuhan yang tak pernah puas dengan apa yang diterimanya, kadang sifat ini dijadikan pemicu untuk menguasai semua yang dapat membuat manusia arogan. Adakah yang menduga bahwa pemimpin bisa menjadi manusia yang bodoh, manusia yang tak punya pikiran untuk menjadi baik. 
Banyak yang mengira bahwa seorang pemimpin itu adalah orang yang cerdas, padahal tidak. Memang sebagian orang menjadi pemimpin yang cerdas dan berdiri sendiri tanpa ada tujuan dari pihak luar, pihak luar yang memang menjadikan pemimpin itu sebagai alat untuk menguasai semua yang diinginkan untuk kepentingannya. Kini pemimpin bukan lagi seorang pemimpin, karena arti pemimpin kini sudah menjadi alat untuk mengendalikan semua hal oleh pihak yang lebih berkepentingan. 
Ada hal yang sangat mengganggu untuk dipikirkan, mengapa ada orang yang selalu mendorong seseorang untuk menjadi pemimpinnya? Apa karena dia tidak bisa memimpin? Ataukah dia hanya bisa mengatur dan menjadi dalang dari wayang yang dia jadikan seorang pemimpin? Secara negatif, pemikiran ini berujung pada setiap pemimpin kita yang ada diatas kursi nyaman itu. Namun jangan terlalu jauh melihat pada hal yang telah ada diatas, mungkin terlalu cepat mempersepsikan semua itu. 
Contoh dekat, kita ambil pada ruang lingkup sekolah atau yang lebih luasnya pada kehidupan kampus. Menurut saya, mahasiswa aktif organisasi itu terbagi pada dua bagian. Yang pertama, mahasiswa yang Idealis. Seorang mahasiswa yang menjunjung nama baik organisasinya agar menjadi lebih baik, tanpa adanya kepentingan atau keberuntungan untuk dirinya sendiri. Jadi sosok mahasiswa ini lebih mementingkan organisasi yang ia huni, tak peduli dengan hidupnya yang pas karena yang ia pikirkan hanyalah kesuksesan terhadap organisasinya. Yang kedua, mahasiswa yang pragmatis. Mahasiswa yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri, sosok seperti ini selalu bertanya pada dirinya sendiri tentang apa yang akan dia dapat nantinya. 
Bila sosok seperti ini menjadi bagian dari sebuah organisasi, maka akan banyak yang ia lakukan untuk kepentingannya sendiri tanpa melihat apa semua itu akan menjadikan organisasi yang ia huni baik-baik saja ataupun tidak. Perbedaan yang amat menjauh antara dua sosok diatas, banyak orang berfikir bahwa berorganisasi itu dapat membuat dirinya kaya. Namun apa yang mereka dapat itu hanyalah keberuntungan sesaat, yang akan menjadi abadi adalah saat kita menjadi orang yang selalu mementingkan kebaikan dari apa yang kini kita huni. Sosok idealis memang banyak kita tunggu didunia ini, sosok yang akan membuat semuanya beruntung karena sosok ini akan menghilangkan seluruh tujuan dan kepentingan dirinya sendiri...

»»  Lanjut baca...

Mahasiswa dan Kepentingannya

Organisasi kemahasiswaan memang sangat perlu adanya, karena sudah terbiasa bila mahasiswa selalu ikut andil dalam perubahan tatanan masyarakat. Selalu kita lihat semua yang dilakukan mahasiswa adalah suatu gebrakan yang baik, karena mahasiswa menjadi wakil dari masyarakat yang menginginkan perubahan. Kita perlu memberikan apresiasi lebih untuk semua pergerakan mahasiswa tersebut, karena semua itu demi kebaikan semua orang dan juga sistem pemerintahan yang lebih baik lagi. Idealisme mahasiswa memang sangat besar tatkala mengacu pada sebuah perubahan yang baik, karena itulah pemikiran mahasiswa akan sangat terbentuk dalam sebuah paradigma perubahan. style="text-align: justify;"> Dengan adanya catatan diatas, bukan berarti mahasiswa menjadi lahan utama dalam seluruh perubahan menuju kebaikan. Walaupun mengacu pada semua tujuan yang baik, namun semua itu tak akan bernilai bila tak pernah adanya satu tujuan yang tak bersifat kepentingan. Terlalu banyak kelompok yang membawa kepentingannya dalam memberikan aspirasi pada setiap aksi didepan gedung DPRD, lihat saja begitu banyak kelompok yang secara terang-terangan mengkritik kinerja pemerintah dengan membawa kepentingan kelompoknya sekaligus mengibarkan bendera tanda eksistensinya. Sepertinya kepentingan masyarakat yang harusnya dikedepankan malah tertutupi oleh kepentingan sebuah golongan, hal yang unik sekali bila setiap melihat demonstrasi selalu berbeda-beda bendera. Memang hal yang amat wajar, namun hal seperti ini lama kelamaan menjadi suatu kebiasaan ajang persaingan setiap kelompok. Kita lihat yang lebih dekat, lihat disetiap kampus terdapat banyak sekali bendera organisasi kemahasiswaan yang berkibar ketika aksi didepan gedung rektorat untuk menuntut perubahan. Anehnya, semua tuntutan itu berbeda jenisnya. Itu berarti persatuan dari pergerakan mahasiswa tidak ada, karena memang kepentingan kelompok yang dibawa. Kita lihat disekeliling kelompok-kelompok yang aksi, terlihat lalu-lalang mahasiswa yang hanya sekedar menonton pertunjukan orang berteriak tanpa sebuah pengertian. Sungguh ironis, kepentingan seluruh mahasiswa ditunjukan oleh mahasiswa yang aksi menuntut keadilan namun tidak semua mahasiswa yang tahu apa yang dituntut dalam aksi tersebut. Bukan berarti mahasiswa yang tidak tahu itu tidak mengerti, namun karena tidak adanya transparansi sebuah kelompok dalam aksinya pada seluruh mahasiswa. Bukan karena mahasiswa yang hanya mondar mandir menonton tidak mengerti, namun sepertinya merasa percuma melihat orang berteriak bila hanya memperlihatkan eksistensinya. Tidak banyak tuntutan yang didengarkan setelah aksi, kebanyakan hanya menjadi janji-janji belaka. Alasannya karena pemerintahpun merasa sudah terbiasa dengan berbagai tuntutan tersebut, maka akhirnya seringkali pergerakan mahasiswa itu terus ada. Andai warga negara tahu semua yang harusnya terjadi pada negaranya, mungkin akan lebih baik.
»»  Lanjut baca...

Asiknya Nulis Politik

Menjadi jurnalis, bukan sebuah mimpi yang harus dikejar namun suatu kenyataan yang harus benar-benar dihadapi. Tak ada alasan untuk membantah semua kenyataan, namun hanya ada langkah yang harus tetap dilewati dengan semua kekuatan yang ada. Terlahir menjadi seorang yang melihat hidup dari sebuah tulisan, memandang tantangan dari sebuah kalimat, kemudian melihat semua sejarah dari cerita. Tak terasa berat bila semua itu disebut sebagai hidup yang penuh tantangan, bukan suatu tantangan yang sulit dilewati namun sebuah pertualangan yang akan meringankan langkah untuk menapaki semua peristiwa hidup yang tak semua orang dapat melewatinya. Tak terasa waktu telah lama berlalu, mulai dari berusaha dapat memegang kamera foto sampai pada membiasakan diri pada kamera video. Tak terasa waktu telah memberikan pelajaran, mengenal cara merubah foto menjadi pesan sampai membuat video menjadi sebuah cerita. Tak terasa waktu telah memberikan segalanya, mulai dari membaca pesan kemudian kini menjadi pembuat pesan. Dan ternyata semua pelajaran itu memberikan visi hidup, bahwa tak masalah tidak menjadi seorang jurnalis karena hidup seorang itu tak akan sama jalannya. Akhirnya, jalan yang lebih cocok akan sangat mendekati pada kenikmatan melangkahkan kaki pada suatu hal yang orang anggap kotor, yaitu politik. Jangan sangka menjadi seorang politikus itu mudah, hanya memberi janji lalu mendapat kepercayaan yang penuh. Tidak semudah itu, karena basic komunikasi yang sangat besar akan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Tidak akan ada seorang kepala daerah bila ia tak bisa berkomunikasi dengan baik dalam setiap kampanyenya, tidak akan ada seorang caleg mendapatkan suara banyak bila tak bisa berkomunikasi secara efektif pada semua masyarakat. Inilah yang menjadi sebuah tantangan dalam hidup, mempengaruhi semua orang adalah cara dimana kita dapat dipercaya. Seperti halnya seorang jurnalis yang menyampaikan pesan dan pesan itu dapat dipercaya, karena kekuatan pesan yang dapat merubah pemikiran semua orang. Pernah mendengar bahwa sebuah kata dapat merubah dunia? Hanya sebuah kata? Disinilah kekuatan sebuah kata diperjualbelikan, bila sebuah kata yang dikeluarkan hanya sebatas kebohongan maka akan sangat memberikan pengarush yang sangat buruk dalam kehidupan. Tapi apakah pernah berfikir saat kita menyampaikan pesan dalam kata-kata yang baik akan memberikan efek yang baik pula? Jawabannya, coba saja kita berkomunikasi dengan baik. Politik bukan jalan hidup yang instan, namun politik menjadikan jalan hidup semakin menantang. Jangan dikira semua selebritis menjalani kehidupan politik yang disebut “instan” itu mudah, mereka harus menjalin komunikasi yang sangat baik disaat menjalani kehidupan barunya. Pada akhirnya mereka menikmati perjalanan hidup yang membuat mereka terkejut, karena hidup dalam dunia politik adalah hidup yang sebenarnya. Alasannya, hidup dalam dunia politik memiliki kesamaan dengan menulis. Dunia politik memberikan kesempatan semua orang untuk menawarkan loyalitas dan kemampuan dalam me-manage waktu mempengaruhi semua orang, karena setiap kata yang diucapkan harus mampu menguasai komunikannya. Coba samakan mempengaruhi orang dengan pesan dalam tulisan, tujuannya adalah mendapatkan feedback yang baik. Coba jalan disisi yang lain, ada beberapa kemungkinan yang bisa kita dapatkan dalam 2 sisi diatas. Menulis dapat mempengaruhi orang lain, kemudian hidup dalam dunia politik juga akan berjalan pada tujuan mempengaruhi orang lain. Ternyata keduanya dapat dijalani dengan sangat mudah, karena keduanya memberikan jalan mempengaruhi orang lain dengan cara yang hampir sama. Bagaimana bila menjadi penulis tentang dunia politik? Atau menjadi pengamat politik? Bahkan menjadi jurnalis politik? Jawabannya bisa apa saja, dan alasannya dapat menjadi apa saja. Tapi menyenangkan menjadi penulis tentang dunia politik dan juga menyenangkan menjadi pengamat politik kemudian sangat hebat bila menjadi jurnalis politik. Menjadi penulis tentang dunia politik, adalah sebuah penghargaan bagi seorang penulis, karena kita bisa menjadikan semua tulisan kita sebuah cerita dari masa lalu. Mengapa dari masa lalu? Alasannya adalah kita hidup sering melihat sejarah, coba kita ingat saat masih sekolah selalu dijejali dengan sejarah yang tak tahu nilai kebenarannya. Bila kita menjadi seorang penulis tentang dunia politik pasti kehidupan sejarah itu dapat kita ketahui dari sisi politik, maka bukan hanya sejarah tapi juga orang-orang yang bersangkutan akan terseret pada sejarah yang belum kita kenal. Mengapa politik? Karena hidup didunia ini penuh politik, lihat saja saat Soeharto menjadi penguasa negri ini selama 32 tahun. Apakah terdapat unsur politik atau karna kepandaian yang dimilikinya? Nah itu bisa kita cari lagi sampai tahu seperti apa dahulu. Menjadi pengamat politik, adalah salah satu cara kita dapat mengetahui alur yang akan kita tempuh pada regenerasi perjalanan negar kita. Alasannya, ada pada waktu 5 tahun kita hidup dengan karakter seorang penguasa negri ini. Pernah merasakan bagaimana bedanya hidup dizaman Megawati menjadi presiden dan SBY dikala menjadi presiden? Pasti tahu bedanya, karena akan terasa pada bagaimana efek pada kesejahteraan masyarakt pada waktu itu. Disaat kita mengamati tujuan dari orang-orang penting seperti tadi, maka kita akan kembali mengamati betapa besarnya pengaruh politik yang mereka miliki. Sangat besar kemungkinan yang terjadi, bila sistem pemerintahan akan bergantung pada tujuan partai politik. Dari sanalah kita bisa belajar menjadi peramal, tapi bukan peramal hidup seperti yang ada di tv. Menjadi peramal bagaimana memperkirakan sistem politik yang akan berjalan bila penguasanya berbeda, karena tipe yang berbeda dari setiap sistem politik. Menjadi jurnalis politik, adalah kesempatan kita untuk mengetahui karakter orang yang memiliki kepentingan. Alasannya, orang bilang para politisi itu pintar mempengaruhi semua orang. Benarkah? Menjadi jurnalis khusus rubrik tentang politik sangat menyenangkan, karena kita berjalan pada arus yang lurus. Maksudnya, kita mencari semua kemungkinan yang terjadi dalam dunia politik. Seperti, tujuan dari partai politik, kaderisasi partai politik dan hal-hal menarik yang lainnya. Dan banyak kasus-kasus korupsi yang menyeret pada partai politik, kebijakan partai politik, ataupun pada sistem partai politik yang diterapkan pada pemerintahannya. Bagaimana menurut anda? Manakah yang menarik? Silahkan dicoba dengan semua keseriusan dalam diri kita, tidak semuanya menjadi instan. Semua orang memiliki jalannya masing- masing, dan jalan itu sudah tentu dapat dipertanggungjawabkan disaat-saat yang genting. Namun yang perlu diingat adalah kita hidup didunia ini penuh dengan karya politik ciptaan kita sendiri, maka kita sebagai manusia dapat disebut Zon Politicon. Politik ada disetiap helaan nafas kita, maka dari itu politik selalu mengelilingi langkah kita dan kita tidak dapa menghindarinya.
»»  Lanjut baca...

Politik dan Majalengka

Komunikasi politik berlaku disini, komunikasi yang dapat membuat orang memiliki kekuasaan dengan dukungan yang meluap dari dukungan yang biasa. Komunikasi ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang tak kenal lelah membujuk pihak lain, bagaimanapun caranya terdapat suatu hal yang sangat luar biasa dari hasil komunikasi politik ini. Kita fokuskan pada salah satu daerah yang mengalami realita komunikasi politik tersebut. Kepala daerah saat ini, H. Sutrisno, SE, M.Si yang telah menjabat dari tahun 2009 lalu, mulai mencari dukungan-dukungan dari berbagai partai politik pesaingnya. Bupati yang saat ini menjadi aktivis dari salah satu Partai Politik besar di Indonesia, yaitu PDIP. Merambah sampai pada partai-partai politik lainnya, seperti GOLKAR, PPP, PKS dan partai-partai politik kecil. Pergerakan yang dibuat oleh bupati saat ini sangat tercium sekali oleh pihak lain, sampai pada mencuatnya isu bahwa pasangan bupati dan wakil bupati tidak akan menjadi tandem terbaik lagi untuk periode mendatang. Mungkin PDIP telah memiliki strategi yang lebih jitu untuk tidak mengikutsertakan wakil bupati saat ini yaitu, H. Karna Sobahi, M.Pd pada pemilihan kepala daerah selanjutnya. Memang realita yang ada sekarang, setiap pejabat Dinas yang menjadi kawan dari Bupati akan sangat mudah untuk mendapatkan posisi yang lebih menguntungkan. Sedangkan yang tidak sefaham dengan Bupati akan dengan mudah digeser dari jabatannya, seperti pada hasil resufle beberapa waktu lalu. Ini menjadi strategi politik yang dapat mengamankan posisi kursi M-1 (Majalengka 1) atau disebut Bupati, dari sinilah dukungan seperti pemilihan tahun sebelumnya dapat digapai kembali untuk menjadi orang nomor 1 Di Kabupaten Majalengka. Tapi apakah dengan jadinya pemimpin yang telah menghasilkan sesuatu yang tidak real, tetap menjadi panutan warga Majalengka untuk memilih pemimpin periode mendatang?? Mungkin hanya sebagian orang yang berpendapat bahwa keadaan pemerintahan pada masa bupati sekarang baik-baik saja, namun melihat dari fenomena yang terjadi adalah cenderungnya semua kalangan politis lebih mendekat pada pihak bupati. Sekarang kemana peranan Wakil Bupati yang sangat independent itu?? Kita sebaiknya tahu bahwa wakil bupati saat ini mulai digoyahkan oleh beberapa pihak yang mencium gerakan kecil untuk menjadi orang pertama di majalengka. Sangat ironis sekali dengan isu-isu seperti itu, seperti saat isu SBY akan mencari pengganti tandem untuk pemilu tahun 2009. Saat itu Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah mulai mencari tandem sama seperti SBY, bukan karena rasa kecewa tapi karena ingin menjadi orang nomor 1 di Republik Indonesia. Maka digandenglah orang nomor 1 GERINDRA, yang tak lain adalah Prabowo. Walau hanya partai politik baru dan menjadi perintis, namun pergerakan GERINDRA sendiri sangat di intens untuk menggalang suara. Akhirnya menuai kekalahanpun tetap menjadi langkah yang hebat bagi GOLKAR yang mengusung nama Jusuf Kalla dan Prabowo saat itu. Sedikit menyamakan antara pemerintahan SBY dengan Sutrisno, keduanya sedang mencari tandem baru walau pada beda masa.perbedaan keduanya pun sangat kontras beda warna, SBY dengan biru Demokratnya dan Sutrisno dengan merah PDIP nya. Memang berlawanan arah, namun hanya sekedar membandingkan saja dari strategi yang hampir sama tersebut. Mari kita lebih fokus pada strategi kedua orang yang berpengaruh di majalengka ini, pastinya kedua orang ini memilih partai politik yang dapat suara lebih banyak untuk pemilu tahun berikutnya. H. Sutrisno pastinya tidak mau melihat partai-partai kecil, arahannya pasti pada GOLKAR dan PPP. Suara yang sangat memenuhi nilai sebuah kemenangan terdapat pada GOLKAR yang periode kemarin berhasil menjadi peringkat kedua terbanyak dalam pemilihan legislatif, namun pihak GOLKAR sendiri tidak mau bila hanya menjadi orang kedua di majalengka. Sama halnya dengan PPP yang tetap ingin mengusung diri menjadi orang pertama, karena tujuan dari partai politik disana adalah orang pertama selama itu ada partai politik lain yang ingin menjadi orang pertama. Berbeda dengan Wakil Bupati, H. Karna Sobahi, yang berasal dari orang independent atau tak memiliki unsur partai politik. Bisa saja perputaran strategi akan dilancarkan oleh dua partai politik tadi untuk menjadi orang kedua, karena selama itu bukan dari partai politik pastinya sistem pemerintahan tidak akan ditanggung oleh warna yang menaungi sang orang pertama. Wabup sendiri ingin menjadi orang pertama di majalengka dengan semua tujuannya pada kemajuan pendidikan, maklum saja karena dengan pengalamannya sebagai Kepala Dinas Pendidikan pemerintahan Hj. Tuti berhasil menjadikan Kab. Majalengka unggul dalam kawasan pendidikannya. Namun bagaimanapun seorang independent akan sangat mudah untuk dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan partai politik, seperti kedua partai politik diatas yang mau mendampingi sosok independent tersebut. Kita lihat saja apa yang akan terjadi dalam persaingan partai poitik versus independent pada episode pemilu mendatang.
»»  Lanjut baca...

Politik Dinasti

Keberadaan sistem politik di indonesia selalu menjadi topik hangat dalam semua warna perpolitikan, karena eksistensi pemegang dan pengguna politikpun beragam. Kekuasaan yang terbatas dengan waktu menjadi satu pembatas yang sangat kuat, dengan hanya 2 periode kekuasaan di daerah ataupun negara sangat diperhitungkan bila seorang warga negara memiliki hak mencalonkan diri. Begitu hangatnya diperbincangkan tentang Politik Dinasti akhir-akhir ini, bahkan dalam RUU PILKADA dicantumkan bahwasannya istri/suami, anak/menantu, bapak, kakak/adik dilarang mencalonkan diri untuk menjadi kepala daerah. Sungguh mengekang hak asasi seseorang berkarir dalam dunia politik, bila itu terjadi maka akan adanya banyak pertentangan. Bila kita lihat lebih dalam, memang banyak sekali terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Namun itu wajar bila kualitasnya sama dengan apa yang telah dilakukan pendahulunya, coba kita tanya pada beberapa daerah yang merasakan hal seperti itu, apa ada alasan yang membuat tatanan masyarakat lebih buruk setelah kekuasaan atau kepemimpinan salah satu anggota keluarga menggantikan pendahulunya. Alasan yang rasional bila kerabat menjadi pengganti kepala daerah diperiode berikutnya karena dipercaya oleh masyarakat, mengapa disebut dipercaya karena peserta memilihpun bukan hanya berasal dari kerabatnya, tapi seluruh warga daerah yang tidak emiliki status kerabat atau hubungan darah keluarga. Dari sinipun kita dapat sedikit menyimpulkan, bahwa kepala daerah terpilih bukan karena adanya nepotisme dalam skala pemilihan. Tentunya karena suara pemilih bukan hanya mengandalkan suara dari kerabat, warga negara Indonesia itu mencapai sekitar 257.516.167 jiwa maka tidak dapat dipungkiri bila popularitas seseorang itu akan menjadi kunci kesuksesan dalam sebuah pemilihan. Salah satu dari isi RUU tersebut juga menyebutkan bahwa wakil kepala daerah haruslah terpilih dari PNS berkarir, karena terdapat banyak sekali konflik yang mengakibatkan sistem birokrasi mendapatkan efek negatif dari konflik tersebut. Berdasarkan catatan Kemendagri, dari 324 Pemilukada hanya 24 pasang calon kepala daerah dan wakilnya saja yang maju lagi sebagai pasangan incumben. Ini bukanlah masalah yang besar, karena kecocokan pasangan itu tidak harus didasarkan pada pertahanan atau tidaknya mereka mencalonkan bersama kembali. Toh sama saja bila pasangan tersebut maju karena memiliki catatan buruk dan saling menutupi, maka dari itu tidak ada alasan yang kuat bila semua alsan tersebut menjadi pertimbangan wakil kepala daerah harus terpilih dari PNS berkarir. Resiko dan efek negatif yang sangat besar bila wakil kepala daerah terpilih dari PNS dan dapat dengan mudah dimanfaatkan, maka kekuasaan satu tangan akan lebih mudah dilakukan oleh kepala daerah yang memiliki wakil seperti itu. Apalagi terdapat opsi kalau wakil kepala daerah dapat terpilih lebih dari satu, dengan alasan kebutuhan jumlah pimpinan di setiap daerah. Dari aspek inilah konflik-konflik akan lebih mudah terjadi, karena lebih banyak kepala maka akan lebih banyak pula pemikiran yang berbeda. Alasannya, PNS pun tidak dapat dianggap tidak mengerti cara berpolitik yang menguntungkan bagi dirinya sendiri. Jabatan Wakil Kepala Daerah itu sangat besar bila ditangani oleh pejabat yang berdiri dipemerintahan sebagai PNS, lebih cocok bila ditangani oleh politisi yang memiliki tujuan membangun koalisi yang baik. Tentu saja kita dapat membandingkan bila orang yang tidak tahu apa-apa menjadi seorang penguasa kedua setelah kepala daerah memegang tanggungjawab yang besar, maka akan senantiasa memberikan kejutan yang tidak sebaik dari pemilik kelebihan khusus dalam ilmu politik. Walaupun kita menganggap kalau ini adalah Politik Dinasti, namun bila memberikan hasil positif bagi masyarakat maka apa salahnya. Bagaimanapun politik memberikan suatu warna yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat, karena yang harus kita tau adalah masyarakat tidak akan memikirkan sistem politik tapi akan lebih berharap pada kesejahteraan hidupnya. Seperti, kesehatan gratis, pendidikan gratis dan semua aspek yang dapat mensejahterakan kehidupannya. Hak politik semua warga negara itu sangat penting, disaat satu badan yang menjadi penguasa selama-lamanya akan menjadi pintu cahaya bagi kelangsungan masyarakat indonesia maka tidak menjadi hambatan untuk terus berkuasa. Apalah arti dari sebuah peraturan kalau hanya menjadikan sebab masyarakat banyak berkeluh kesah pada negaranya, maka dari itu semua yang terjadi pada kehidupan warga negara tergantung pada siapa yang sesungguhnya pantas menjadi pemimpinnya.
»»  Lanjut baca...

Organisasi Daerah

Mahasiswa sudah hakikatnya sebagai Agen Sosial of Change atau sebagi agen perubah sosial masyarakat, jelas sudah manfaat mahasiswa untuk mengabdikan dirinya pada sebuah tatanan masyarakat. Ada yang amat unik dalam keberjalanan menjadi mahasiswa, sudah menjadi kebiasaan bila mahasiswa diam pada 2 karakter yang berbeda. Dua pilihan ini saling bertolak belakang dari setiap aspeknya, yaitu seorang Study Oriented atau mahasiswa yang fokus kuliah dan maha aktifis dalam organisasi. Kini kita bagi dengan 2 penjelasan, pertama adalah Study Oriented yang tidak pernah mmau tahu apa yang terjadi dengan sistem keorganisasian mahasiswa dikampus. Ia hanya bergelut dengan prestasi yang harus ia capai dalam belajar, namun tak pernah mau tahu dengan kehidupan eksternal kampus dalam dunia organisasi. Menganggap semua pergerakan mahasiswa diluar itu hanya sebatas eksistensi yang kosong, belum tentu semua pergerakan itu dapat menjadi titik kesuksesan dimasa depan. Kedua, seorang aktifis yang sering kali kita dengar menjungjung tinggi sebuah nama keadilan untuk suatu kesejahteraan. Ini membuktikan betapa idealnya sosok mahasiswa belakangan ini, namun terkadang akan sangat bertolak belakang dengan sosok mahasiswa diatas. Seorang aktifis kadang melupakan tugasnya sebagai pencari ilmu, karena saking asyiknya dengan semua persoalan keadilan yang harus ia selesaikan. Dari paparan 2 karakter diatas, maka kita simpulkan saja dengan sebuah kata “berbeda cara hidupnya”. Ada yang benar-benar unik disaat kita gabungkan kedua karakter tersebut, maka akan menjadi karakter mahasiswa yang sangat-sangat ideal. Namun jarang sekali mahasiswa seperti itu, karena memang hidup adalah sebuah pilihan yang berat. Kini kita membahas diluar dua kehidupan karakter-karakter tersebut, kembali pada fungsi Agent Sosial Of Change yang berarti menjadikan mahasiswa sebagai pelajar tingkat pemahamannya tinggi. Pengabdian terhadap masyarakat menjadi harga mati bagi mahasiswa, karena menjadikan mahasiswa sebagai harapan masa depan masyarakat dalam membentuk tatanan masyarakat yang lebih baik lagi. Semua organisasi tentunya memiliki berbagai macam tujuan untuk perkembangan masyarakat yang amat baik, namun dengan berbagai cara yang sangat berbeda. Dari sinilah dapat kita lihat mana oranisasi yang menjunjung tinggi semua aspek kebaikan untuk masyarakat nanti, karena dengan inilah masyarakat memiliki seorang mediator yang mampu memberian perubahan-perubahan yang baru. Kita kerucutkan pada nama Organisasi Daerah yang menjadi wakil dari masyarakat untuk merubah tatanan masyarakat yang baik didaerahnya. Sangat banyak sekali bila kita melihat disetiap universitas terdapat nama Organisasi Daerah, namun apa semua itu tidak berunsurkan peranan politik yang menggangu fungsi? Mari kita bahas disini. Kehidupan politik memang sudah kita jalani dari mulai kita menginjakan kaki didunia ini, namun kita juga harus memilah dan memilih mana yang harusnya kita pilih. Kehidupan berpolitik dalam berorganisasi tetap harus kita jalani, namun alangkah lebih baiknya bila kepentingan politik tidak kita campur adukkan pada sebuah kepentingan untuk masyarakat. Organisasi daerah adalah organisasi ideal untuk menjadikan diri sebagai Agent Sosial Of Change, karena akan sangat dekat ranah pencapaiannya dengan masyarakat. Salah satu buktinya adalah terus mengadakan setiap kegiatan untuk memajukan daerahnya, seperti dilingkungan sekolah ataupun bakti pada masyarakat. Inilah yang dilihat dari idealnya Organisasi Daerah tanpa Kepentingan Politik, karena ironis sekali bila sebuah organisasi menjadi alat politik. Sangat harus dijauhi dari semua kepentingan tersebut bila ingin menjadi perubah sosial, maka dari itu ada yang membuat Organisasi daerah sangat unggul dari semua organisasi yang ada.

»»  Lanjut baca...

Generasi Berpolitik

Manusia adalah makhluk yang sangat cerdas, karena itu manusia dapat cepat berfikir bila telah berada dalam titik jenuh. Hebatnya manusia adalah selalu mendapatkan berbagai alasan dari setiap tingkah lakunya, namun tetap saja manusia tak akan mendapatkan jawaban bila terus menyampaikan alasan-alasan yang memberikan ketidakberdayaan menyelesaikan masalah. Otak manusia memiliki banyak sekali syaraf untuk selalu melakukan apapun kehendaknya, namun bila tidak bisa mengontrol dirinya sendiri maka senantiasa akan salah memilih semua hal yang penting ataupun tidak penting bagi dirinya sendiri. Termasuk menggunakan caranya berpikir politik, sudah menjadi bagian dari tatanan pemikiran manusia bila berpikir politik. Tidak usah jauh membayangkan pada kehidupan politik negara kita, tapi coba lihat semua yang kita lakukan semata-mata dengan cara berpolitik. Tidak perlu kuliah di jurusan politik karena dari mulai kita kecilpun sudah berlaku politik, namun memang tidak selengkap apa yang didapat dari belajar di jurusan politik. Berpikir politik sepertinya sudah menjangkit seluruh pikiran manusia, karena dalam melakukan hal apapun selalu memakai unsur politik. Alasannya adalah sebuah kepentingan, kepentingan yang harus terpenuhi. Terlepas itu kepentingan pribadi ataupun kepentingan sebuah golongan, tapi semua itu tetap ada pada sebuah pemikiran politik. Pada era tehnologi ini mungkin sudah terlahir para generasi-generasi berpolitik dikalangan mahasiswa, karena segalanya terus berkaitan dengan kepentingan-kepentingan yang meluas jangkauannya. Lihat saja banyak sekali organisasi mahasiswa yang mengatas namakan persatuan mahasiswa, namun tetap saja didalamnya terdapat kepentingan-kepentingan suatu golongan. Silahkan amati sendiri dari berbagai organisasi tersebut, karena banyak orang mengatakan bahwa dengan berorgansasilah seorang manusia mendapatkan titik pemahamannya. Sepertinya itu menjadi alasan mengapa bila ada aksi atau demonstrasi selalu berbeda-beda kelompoknya, itu karena setiap kelompok membawa kepentingan-kepentingannya sendiri. Pernah kita bayangkan bila suara yang berbeda itu menjadi satu suara?? Agak sulit juga bila bayangan indah itu terjadi. Ada kesimpulan sementara, yaitu generasi muda sekarang telah menjadi generasi berpolitik. Kata yang terdengar hebat namun sepertinya tetap digerakan oleh sebuah kepentingan yang akan memberikan keuntungannya sendiri. Diatas nilai hebat, semua generasi berpolitik ini akan senantiasa menikmati kepentingannya bila telah terpenuhi. Generasi berpolitik ini menjadi generasi yang pintar melontarkan alasan dan kritikan pada semua yang dianggapnya tidak baik, karena memang memegang teguh semua kepentingannya. Dalam kehidupan perkuliahanpun tidak jarang orang memakai politik, seperti dalam mengerjakan tugas-tugas perkuliahannya, meninggalkan waktu kuliah dan lebih mementingkan kebutuhannya. Ada yang sangat unik bila kita memperhatikan semua hal tentang organisasi ekstra kemahasiswaan, karena banyak mengandung peran-peran berpolitik didalamnya. Banyak organisasi daerah yang menjunjung nama daerahnya untuk memberikan perubahan yang baik, tapi tetap saja menginginkan feedback yang menguntungkan bagi kelompoknya. Lihat saat hari anti korupsi dan HAM sedunia, banyak sekali mahasiswa aksi didepan pemerintahan daerahnya menuntut pemberantasan korupsi dengan alasan rakyat harus mengetahui transparansi dari pemerintah. Dengan alasan itu aksi berjalan mengatasnamakan kepentingan masyarakat, namun lihat apakah semua itu sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat?? Tidak, karena mereka tetap membawa kepentingannya sendiri. Generasi berpolitik yang sangat miris tujuannya, karena eksistensi dan popularitas kelompoknya saja. Tidak banyak orang menghampiri kepentingan-kepentingan politik untuk mendapatkan perhatian, karena kembali pada apa yang menjadi keuntungannya. Orang-orang ini sangat cerdas menggunakan komunikasi politik dan politik komunikasinya. Sangat mudah, karena hanya dengan berpikir lebih politik maka kita dapat menjadi pakar politik yang hanya memiliki pemikirannya saja. Kini, bisakah kalangan mahasiswa lebih mengontrol kepentingannya untuk tujuan awal menjadi mahasiswa. Agent Sosial of Change, kata-kata itu pasti sering didengarkan namun lambat laun terlupakan. Berbakti pada masyarakat adalah tujuan yang lebih baik dari pada berpikir politis yang tak akan habis.
»»  Lanjut baca...

Kalo Politisi Sakit Hati

Kekuasaan selalu menjadi hal yang sangat berharga bagi manusia yang ingin berpolitik, kebanyakan orang menganggap eksistensi dari sebuah keaktifan adalah menjadi penguasa. Tidak cukup dengan satu periode, tapi periode berikutnyapu harus tetap menjadi seorang pemimpin yang disebut penguasa. Ini terjadi pada beberapa daerah yang pemimpinnya ingin terus menjadi pemimpin, dengan alasan melanjutkan program kerja daerah tersebut sampai tuntas. Diluar kepentingan masyarakat dan kesejahteraannya, para pemimpin ini justru kebeanyakan mementingkan kepentingannya sendiri dengan terus menjadi orang nomor satu didunianya. Walaupun ruang lingkupnya yang kecil, namun kepemimpinan disebuah daerah akan sangat menentukan pada kepentingan yang lebih besar artinya bagi orang-orang yang berada diranah lebih atas. Komunikasi politik memang haruslah berlaku disini, komunikasi yang dapat membuat orang memiliki kekuasaan dengan dukungan yang meluap dari dukungan yang biasa. Komunikasi ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang tak kenal lelah membujuk pihak lain, bagaimanapun caranya terdapat suatu hal yang sangat luar biasa dari hasil komuniaksi politik ini. Sakit hati dan loyalitas dapat dipertaruhkan dalam sebuah rangkaian hisup sebagai politisi, mengapa harus ada dua sisi dalam hidup berpolitik?? Karena memang semua hal yang berhubungan dengan politik adalah nyata bentuknya dengan arti bertahan hidup atau mempertahankan hidup. Bertahan hidup artinya mempertahankan sebuah partai politik untuk tetap hidup dan tetap bersaing dengan partai-partai politk lainnya, sedangkan mempertahankan hidup adalah bertahan agar individu tidak menjadi orang yang terlihat mati karena tidak bisa bertahan hidup. Politik memang amatlah dekat dengan sebuah persaingan, apalagi di zaman sekarang politik dijadikan sebagai alat adu ilmu strategi untuk mendapatkan sebuah kekuasaan dalam hal apapun. Orang yang menang akan lebih berkuasa dibandingkan dengan orang yang mengalami kekalahan, namun ironisnya seorang yang kalah dalam politik akan senantiasa menjadi orang yang ditakuti oleh yang menang. Bukan berarti akan menjatuhkan sebuah badan politik, tapi akan terus menjadi pesaing dengan jalan mengawali ancaman dari sebuah badan baru. Hal ini banyak sekali terjadi dikalangan politisi atas, seperti contohnya disaat SBY menjadi pesaing Megawati pada pemilu 2004. Saat itu banyak sekali yang menganggap bahwa SBY telah dibuat sakit hati oleh Megawati sehingga efeknya membentuk masyarakat berfikir bahwa SBY adalah orang yang harus didukung, karena kekecewaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Megawati saat itu. SBY menjadi trend baru dari sosok pemimpin indonesia dengan pola dia berbicara, sampai pada hasilnya pemerintahan SBY sangat intens dengan kasus-kasus korupsi yang ditemukannya. Alhasil, banyak masyarakat menganggap bahwa pemerintahan SBY lebih baik dari pemerintahan sebelumnya. Dapat disimpulkan bahwa orang yang dapat menghancurkan sebuah kekuasaan adalah orang yang sakit hati, bahkan kalau dilihat dari efek sakit hati SBY hasilnya sangat menakjubkan sampai pada jabatan Presiden RI dalam dua periode ini. Seseorang yang menang memang menjadi unggulan, tapi dengan keunggulan itu bisa membuat celah orang yang kalah sangat mudah menbaca pergerakan sang pemenang. Pada saat inipun bisa kita lihat dari sisi partai politik besar lainnya seperti GOLKAR. Dua orang yang amat berpengaruh di GOLKAR yaitu Abu Rizal Bakrie dan Surya Paloh, menjadi pesaing terkuat dalam bursa pemilihan calon ketua GOLKAR. Kedua menjadi orang yang sangat diunggulkan, bagaimana tidak dengan kapasistas kekayaan yang diatas rata-rata dan memiliki media sendiri akan sangat mudah untuk menaikan namanya masing-masing untuk bursa pencalonan tersebut. Banyak yang mengira kalau keduanya akan berimbang, namun kenyataannya setiap persaingan selalu ada pemenang dan pecundang. Semua orang tahu bahwa Ichal (sebutan Abu Rizal) menjadi pemenang dalam persaingan tersebut, menyisikan kekuatan sebesar Surya Paloh. Tak ada yang mengira setelah persaingan tersebut akan terjadi dua kubu yang berbeda, disaat Surya Paloh lebih memilih untuk mundur dari Partai Politik yang telah membesarkan namanya dan memili untuk terjun diluar tanpa embel-embel kuning kebanggaan. Sosok sakit hati yang tak mau cepat dianggap mati, maka mempertahankan harga diri menjadi harga mati untuk tetap bertahan hidup didunia politik. Mungkin kita pernah mendengar nama Nasional Demokrat yang orang bilang sebagai OrMas, namun apa yang terjadi sekarang sangat berbeda karena Ormas yang sering orang sebut itu adalah kaderisasi dari sebuah Partai Politik baru yang akan senantiasa menjadi ancaman semua partai politik termasuk GOLKAR. Pergerakan yang dilakukan oleh Surya Paloh ini dianggap wajar, karena rasa kekecewaannya terhadap GOLKAR harus ia balas dengan menjadi pesaing kuat untuk GOLKAR diperiode selanjutnya. Nama Partai Nasional Demokrat memang belum terlihat gerak gerik dalam menatap pemilu 2014 mendatang, namun perlu diwaspadai kalau pendukungnya sangat banyak termasuk orang-orang yang iktu sakit hati dengan tersisihnya Surya Paloh dalam perebutan kursi pertama Partai GOLKAR tersebut. Kita akan membuktikan sendiri pada pemilu mendatang siapa yang akan menjadi pemenang dari persaingan jilid 2 antara orang pertama GOLKAR dan orang yang tersisihkan dari GOLKAR. Mungkinkan prediksi yang sakit hati akan menjadi pemenang dan tersenyum nanti, ataukah orang yang menang tetap menjadi pemenang?? Hanya 2014 nanti yang akan jadi saksi pembuktian dua sosok kuat ini. Walaupun tidak menutup kemungkinan penguasa sekarang akan memberikan kesempatan kader demokrat Anas Urbaningrum menjadi suksesor selanjutnya, namun melihat kekuatan Demokrat saat ini mungkin tidak akan memberi jaminan menjadi ancaman kuat bagi Ichal dan Surya Paloh. Kita lihat saja ketiga orang hebat ini beradu strategi dalam perebutan kursi pertama di Republik Indonesia.
»»  Lanjut baca...

Guru Atau Pengajar

Pengajar disekolah adalah guru, ayah disekolah adalah guru kemudian ibu disekolah adalah guru dan semua itu disebut orang tua disekolah adalah guru. Semua itu sudah menjadi pepatah dari zaman kemerdekaan bahkan sebelumnya, namun adakah yang pernah menyebut sahabat murid disekolah adalah guru? Pengalaman menjadi siswa selama 12 tahun tak terdengar sebutan itu, atau mungkin memang guru hanya menjadi tetua dan yang harus dicontoh oleh siswa-siswanya? Sedikit kita bercerita tentang seorang guru yang selalu terlihat pintar, cerdas dan lebih segalanya dari siswa. Terdapat banyak kasus disaat siswa tidak menyukai salah satu pelajaran karena cara mengajar guru tidak sesuai dengan apa yang ingin difahami siswa, namun tidak sedikit juga siswa yang hanya mengikuti apa yang diinginkan guru. Alasannya hanya karena nilai, kemudian alasan selanjutnya adalah karena takut dilaporkan kepada orang tua siswanya. Mari kita sisihkan dahulu cerita diatas, karena akan menjadi kesimpulan pada tulisan ini. Pernahkah kita coba menjadikan siswa sebagai sahabat kita (anggap kita adalah guru) didalam kelas? Pernahkah kita mengajak siswa untuk menggunakan metode pendekantan personal agar siswa memiliki daya juang tambahan? Kembali pada pengalaman pribadi, jawabannya tidak. Banyak keluhan yang dikatakan para siswa kalau guru hanya menjadi pengatur dan tak jarang menjadi musuh kebahagiaan. Agak aneh dengan ungkapan “musuh kebahagiaan”? nah mungkin kita semua pernah mengalami disaat metode bermain sambil belajar menjadi ujian atau “kuis”, sepertinya para siswa ingin diberi pemahaman yang benar-benar mereka akan fahami dan bukan mereka ketahui saja. Hanya sebatas pengajar saja tidak akan cukup bagi manusia menjadi seorang guru, tapi menjadi sahabat bagi siswa akan sangat berarti dan dihargai oleh siswa. Pernahkah berfikir untuk memberikan tugas dikelas dengan diiringi musik? Mungkin guru Bahasa inggris sering melakukannya untuk metode pengajaran “listening”, tapi bagaimana dengan yang lainnya? Sepertinya belum ada ya? Semoga akan ada yang memulainya. Ingat dengan kata-kata “jaga nama baik sekolah”? selalu diucapkan setiap hari senin oleh pembina upacara, namun apa ada kata-kata yang diungkapkan seperti, “jangan nama baik teman sendiri”? coba kita ingat lagi dalam setiap waktu kita disekolah. Rata-rata yang hanya dijaga adalah nama baik sekolah, namun belum ada yang seperti itu. Sahabat adalah orang yang akan selalu menjaga ucapannya agar sahabatnya tidak tersinggung ataupun marah, bila marah maka dengan cara apapun seorang sahabat akan memberikan keceriaan untuk menutupi semua itu. Sahabat akan senantiasa memberikan pemahaman yang luar biasa dengan caranya sendiri, dan akhirnya akan menjadi perpaduan yang istimewa dan pengaruh yang dahsyat. Coba kita samakan dengan sosok bernama guru. Seringkali guru hanya bisa memerintah kita dengan caranya sendiri, menjelaskan dengan pemahamannya sendiri, kemudian memberikan ujian atau test dengan meyakinkan dirinya sendiri bahwa para siswa telah mengerti. Namun apabila kita tanya pada setiap siswa, pastinya jawaban mereka hanya sebatas “iya pak!!!”. Cukup dengan hal itupun kita telah mengetahui bagaimana tersiksanya seorang siswa dengan cara seperti itu. Kita belokan sejenak pada cara yang diterapkan oleh orang-orang atau pengajar Bimbel (Bimbingan belajar) dilembaga apapun. Mereka memiliki cara khusus dengan mendekatkan diri mereka pada setiap siswanya, bukan sebuh alasan bila hanya mengatakan kalau kuota siswa dalam sekelah banyak. Itu hanya menjadi alasan yang sangat klasik dari setiap orang, namun apakan ada yang memiliki gagasan-gagasan yang ideal. Sepertinya calon-calon guru yang hari ini masih menjadi mahasiswa akan tahu jawabannya, calon guru ini lebih mengetahui cara seperti apa yang terbaik bagi siswa dalam belajar. Mereka akan membuat dirinya menjadi sahabat terbaik bagi siswa-siswanya, tak heran bila banyak sekali orang menjadi guru baru namun diberikan posisi sebagai pengganti. Semoaga tidak ada lagi yang menjadikan jiwa guru hanya sebagai pengajar saja, menjaga perkataan akan sangat berpengaruh bagi semua hal yang akan disampaikan.
»»  Lanjut baca...